8.22.2011

QALBU DAN KEWAJIBAN SESEORANG TERHADAPNYA




الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَفَضَّلَهُ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ بِالْإِنْعَامِ وَالتَّكْرِيْمِ، فَإِنِ اسْتَقَامَ عَلى طَاعَةِ اللهِ اسْتَمَرَّ لَهُ هذَا التَّفْضِيْلُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَإِلاَّ رُدَّ فِي الْهَوَانِ وَالْعَذَابِ الْأَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَهُوَ الْخَلاَّقُ الْعَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَهِدَ لَهُ رَبُّهُ بِقَوْلِهِ: {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمِ} صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ سَارُوْا عَلَى النَّهْجِ القَوِيْمِ وَالصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالىَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَإِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.



Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah l yang telah menciptakan manusia dalam sebaik-sebaik bentuk dan melebihkannya dengan berbagai keutamaan dari makhluk lainnya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali hanya Allah l, serta saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah l curahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya,para sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berjalan di atas petunjuknya.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dan senantiasa memperbaiki qalbu kita masing-masing. Ketahuilah rahimakumullah, bahwa Allah l tidak melihat bentuk dan postur tubuh serta paras wajah seseorang, tetapi yang dilihat tidak lain adalah qalbu dan amalannya. Oleh karena itu, sebagaimana seseorang senantiasa membersihkan badan dan pakaiannya dari kotoran yang mengenainya, seharusnya dia juga memperbaiki amalan dan membersihkan qalbunya.
Bahkan memerhatikan qalbu harus lebih diutamakan, karena rusaknya qalbu lebih berbahaya daripada rusaknya anggota badan. Rusaknya qalbu akan dirasakan akibatnya oleh si pemiliknya, baik ketika di dunia apalagi saat di akhirat nanti. Akan tetapi rusaknya anggota badan hanya dirasakan saat di dunia dan akan berakhir dengan datangnya kematian. Begitu pula baik dan tidaknya amalan anggota badan, sangat dipengaruhi oleh keadaan qalbu seseorang. Hal ini sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad n:
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah bahwasanya pada setiap tubuh seseorang ada segumpal daging. Jika dia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun apabila dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging tadi adalah qalbu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Pada hadits tersebut kita memahami bahwa perbuatan anggota badan dipengaruhi oleh keadaan qalbu seseorang. Apabila qalbunya dipenuhi dengan cinta kepada Allah l dan Rasul-Nya, anggota badannya juga akan digunakan untuk menaati Allah l dan Rasul-Nya. Sebaliknya, apabila qalbunya dipenuhi oleh cinta kepada syahwat dan mengikuti hawa nafsu, anggota badannya pun akan tunduk mengikuti keinginan syahwat dan hawa nafsunya. Oleh karena itu, kedudukan qalbu terhadap anggota badan lainnya adalah ibarat seorang raja terhadap para bawahannya yang selalu siap mengikuti perintahnya dan tidak menyelisihinya. Karena itu, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada anggota badan apabila qalbunya itu baik, dan sebaliknya, apa yang akan terjadi apabila qalbunya itu rusak.

Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Dengan demikian, qalbu adalah bagian yang paling mulia pada diri manusia. Di sanalah tempat ma’rifatullah, yaitu ilmu seseorang tentang Rabb-Nya. Di sana pula tempatnya cinta, rasa takut, harapan, dan tawakkalnya seseorang kepada Allah l serta amalan qalbu lainnya. Bahkan di sanalah tempatnya niat yang menjadi timbangan sah atau tidaknya dan diterima atau ditolaknya amal ibadah seseorang. Nabi n bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Bahwa amalan itu tergantung dengan niat, dan seseorang mendapatkan apa yang dia niatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)
Jika demikian, tidak cukup bagi seseorang untuk hanya memperbaiki amalan yang lahiriah saja tanpa memerhatikan keadaan qalbunya. Akan tetapi, memerhatikan dan memperbaiki qalbu seharusnya lebih didahulukan daripada memerhatikan amalan lahiriah. Bahkan amalan anggota badan yang nampak, tidak akan sah atau diterima apabila tidak ada amalan qalbu yang disebut ikhlas. Oleh karen itu, setiap orang harus memiliki amalan qalbu yang disebut ikhlas ini, untuk seluruh amalan ibadah yang dilakukan oleh anggota badannya.

Hadirin rahimakumullah,
Sesungguhnya, qalbu ada yang bisa mengeras seperti kerasnya batu atau bahkan lebih keras dari batu. Qalbu yang paling keras adalah yang paling jauh dari Allah l dan dari ketaatan kepada-Nya. Qalbu jenis ini tidak mau menerima nasihat dan tidak berkeinginan untuk mencari petunjuk serta kebenaran, sehingga pemiliknya tidak memperoleh manfaat kebaikan dari qalbunya, bahkan tidak ada yang keluar dari qalbunya kecuali kejelekan.
Di sisi lain, ada pula qalbu yang lembut dan baik, yaitu qalbu yang selalu tunduk dan patuh kepada Penciptanya. Qalbu jenis ini adalah qalbu yang siap menerima kebenaran dari nasihat yang datang kepadanya.
Lembut dan kerasnya qalbu seseorang dipengaruhi oleh beberapa sebab yang dilakukan oleh pemiliknya. Hal-hal yang bisa menjadi sebab baik dan lembutnya qalbu diantaranya adalah membaca dan mendengarkan Al-Qur’an. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan ketakutannya kepada Allah dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (Al-Hasyr: 21)

Hadirin rahimakumullah,
Kalau gunung yang begitu keras saja bisa hancur, tentunya qalbu yang keras pun akan menjadi lembut apabila si pemiliknya senantiasa memperbaikinya dengan membaca dan mendengarkan serta mempelajari Al-Qur’an. Di dalam ayat lainnya, Allah l berfirman:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk qalbu mereka mengingat Allah dan tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya yang telah diturunkan kepada mereka Al-Kitab, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu qalbu mereka menjadi keras dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)
Karena itu, kaum muslimin wajib senantiasa membaca dan mempelajari kandungan Al-Qur’an, agar tidak seperti ahlul kitab yang menjadi keras qalbunya karena berpaling dari kitab Taurat dan Injil.

Hadirin rahimakumullah,
Diantara perkara yang juga akan membuat lembutnya qalbu adalah mengingat kematian serta mengingat bahwa dunia ini adalah kehidupan yang sesaat, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya adalah di akhirat. Allah l berfirman:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Hadirin rahimakumullah,
Diantara perkara yang menjadi sebab lembutnya qalbu adalah memperbanyak mengingat Allah l atau berzikir dengan zikir-zikir yang ditetapkan oleh syariat. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah qalbu mereka.” (Al-Anfal: 2)
Dalam ayat lainnya, Allah l berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang qalbunya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan dia dalam keadaan melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)
Selanjutnya, diantara hal yang akan melembutkan qalbu adalah menerima apa yang dibawa oleh Rasulullah n dan mengamalkan ilmu yang telah sampai kepadanya. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Allah l di dalam Al-Qur’an tentang keadaan orang-orang musyrikin yang menjadi keras qalbunya akibat perbuatan mereka berupa menolak dakwah atau ajakan Rasulullah n dalam firman-Nya:
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan qalbu dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) sejak awal pertama datang dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am: 110)
Demikianlah keadaan orang-orang musyrikin yang menjadi keras qalbu mereka sehingga tetap di atas kekafirannya akibat tidak menerima ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah n.
Begitu pula halnya dengan memerhatikan keadaan orang-orang yang sakit, fakir miskin, dan orang-orang yang tertimpa musibah, termasuk sebab lembutnya qalbu. Dengan memerhatikan keadaan mereka, seseorang akan mengetahui betapa banyak dan besarnya nikmat Allah l kepadanya sehingga menjadi lembut qalbunya. Hal ini berbeda dengan orang yang justru selalu melihat keadaan orang-orang yang kaya apalagi yang bermewah-mewah, maka dia akan jauh dari bersyukur kepada Allah l dan menjadi keras qalbunya. Allah l telah memerintahkan kepada Nabi-Nya n agar bersabar untuk berkumpul serta tidak meninggalkan orang-orang yang miskin dan orang-orang yang lemah dari kalangan kaum muslimin karena ingin bersama orang-orang yang mendapatkan kemewahan dunia yang membuat mereka lalai kepada Allah l. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
“Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.” (Al-Kahfi: 28)
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ لِلهِ مُقَلِّبِ القُلُوْبِ وَعَلاَّمِ الغُيُوْبِ، وَقَابِلِ التَّوْبَةِ مِمَّنْ يَتُوْبُ، شَدِيْدِ الْعِقَابِ عِنْدَ قَسْوَةِ القُلُوْبِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ سَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا، أَمَّ بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa hal-hal yang akan menyebabkan keras dan rusaknya qalbu sangat banyak di masa kita sekarang ini. Oleh karena itu, kita semuanya harus senantiasa waspada dan berhati-hati agar tidak terjatuh pada hal-hal yang mengeraskan qalbu tersebut.
Diantaranya adalah tersibukkan dan tertipu dengan gemerlapnya dunia serta kurang berhubungan dengan masjid, sehingga menjadikan sebagian besar waktunya hanyalah untuk urusan dunia. Kedua hal ini menyebabkan kerasnya qalbu, karena akan melupakan seseorang dari akhirat dan mengingat Yang Mahakuasa. Berbeda dengan seseorang yang banyak berhubungan dengan masjid yang merupakan sebaik-baik tempat di muka bumi ini, maka dia pun akan senantiasa mengingat Allah l.

Hadirin rahimakumullah,
Termasuk sebab yang membuat kerasnya qalbu adalah tidak menundukkan pandangan dari melihat hal-hal yang diharamkan. Baik secara langsung maupun melalui layar televisi, internet, majalah, dan VCD, yang menampilkan gambar-gambar yang terlarang dan sebagainya. Begitu pula mendengarkan lagu-lagu dan musik dengan berbagai jenisnya. Kedua hal ini juga akan mengeraskan qalbu karena akan menjauhkan seseorang dari perkara yang bisa melembutkan qalbu yaitu berzikir dan membaca Al-Qur’an. Allah l berfirman:
“Ingatlah, dengan mengingat Allah-lah qalbu menjadi tenang.” (Ar-Ra’d: 28)
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Termasuk perkara yang akan membuat kerasnya qalbu adalah mengonsumsi makanan dan minuman yang haram. Makanan dan minuman yang haram akan sangat berpengaruh terhadap akhlak dan ibadah orang yang mengonsumsinya, sehingga akan membuat orang tersebut menjadi rusak akhlaknya dan malas dalam beribadah kepada Allah l. Begitu pula seluruh jenis kemaksiatan, adalah sebab kerasnya qalbu seseorang. Sebagaimana hal ini tersebut dalam firman Allah l:
“Sekali-kali tidak (demikian), bahkan sebenarnya apa yang mereka lakukan (dari perbuatan kemaksiatan) itu menutupi qalbu mereka.” (Al-Muthaffifin:14)
Oleh karena itu, seseorang harus menjauhi segala jenis kemaksiatan apabila dirinya menginginkan hati yang lembut.
Akhirnya, mudah-mudahan Allah l senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita semua.

8.21.2011

SHALAWAT-SHALAWAT BID'AH

Kita banyak mendengar lafazh-lafazh bacaan shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam yang diada-adakan (bid'ah) yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, para sahabat, tabi'in, juga tidak oleh para imam mujtahid. Tetapi semua itu hanyalah buatan sebagian masyayikh (para tuan guru) di kurun belakangan ini. Lafazh-lafazh shalawat itu kemudian menjadi terkenal dikalangan orang awam dan ahli ilmu, sehingga mereka membacanya lebih banyak daripada membaca shalawat tuntunan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Bahkan mungkin mereka malah meninggalkan lafazh shalawat yang benar, lalu menyebarluaskan lafazh shalawat ajaran para syaikh mereka.
Jika kita renungkan mendalam makna shalawat-shalawat tersebut, niscaya kita akan menemukan di dalamnya pelanggaran terhadap petunjuk Rasul, orang yang kita shalawati. Di antara shalawat-shalawat bid'ah tersebut adalah:...

1. Shalawat Basyisyiyah

lbnu Basyisy berkata, "Ya Allah, keluarkanlah aku dari lumpur tauhid. Dan tenggelamkanlah aku dalam mata air lautan keesaan. Dan lemparkanlah aku dalam sifat keesaan sehingga aku tidak melihat, mendengar atau merasakan kecuali dengannya."

Ini adalah ucapan orang-orang yang menganut paham Wahdatul Wujud.Yaitu suatu paham yang mendakwakan bahwa Tuhan dan makhIuk-Nya bisa menjadi satu kesatuan.Mereka menyangka bahwa tauhid itu penuh dengan lumpur dan kotoran, sehingga mereka berdo'a agar dikeluarkan daripadanya. Selanjutnya, agar ditenggelamkan dalam lautan Wahdatul Wujud.Sehingga bisa melihat Tuhannya dalam segala sesuatu. Bahkan hingga seorang pemimpin mereka berkata, "Dan tiadalah anjing dan babi itu, melainkan keduanya adalah tuhan kita. Dan tiadalah Allah itu, melainkan pendeta di gereja. "

Orang-orang Nasrani menyekutukan Allah (musyrik) ketika mereka mengatakan bahwa Isa bin Maryam adalah anak Allah. Adapun mereka, menjadikan segenap makhluk secara keseluruhan sebagai sekutu-sekutu Allah! Mahatinggi Allah dan apa yang diucapkan oleh orang-orang musyrik.

Oleh karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, berhati-hatilah terhadap lafazh-lafazh bacaan shalawat bid'ah, karena akan menjerumuskanmu dalam perbuatan syirik. Berpegang teguhlah dengan apa yang datang dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, seorang yang tidak mengatakan sesuatu menurut kehendak hawa nafsunya. Dan janganlah engkau menyelisihi petunjuknya, "Barangsiapa melakukan suatu amalan (dalam agama) yang tidak ada perintah dari kami, maka ia tertolak." (HR. Muslim)

2. Shalawat Nariyah
Shalawat nariyah telah dikenal oleh banyak orang. Mereka beranggapan, barangsiapa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat agar kesusahan dihilangkan, atau hajat dikabulkan, niscaya akan terpenuhi.
Ini adalah anggapan batil yang tidak berdasar sama sekali. Apalagi jika kita mengetahui lafazh bacaannya, serta kandungan syirik yang ada di dalamnya. Secara lengkap, lafazh shalawat nariyah itu adalah sebagai berikut,

"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga, dan sahabat-nya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui."

Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Quranul Karim menyeru, dan yang dengannya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah semata yang kuasa menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika ia berdo'a.

Setiap muslim tidak boleh berdo'a dan memohon kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakit-nya, bahkan meski yang dimintanya adalah seorang malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah).

Al-Qur'an mengingkari berdo'a kepada selain Allah, baik kepada para rasul atau wali. Allah berfirman,

"Katakanlah, 'Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memin-dahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan siksaNya; sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti." (Al-lsra': 56-57)

Para ahli tafsir mengatakan, ayat di atas turun sehubungan dengan sekelompok orang yang berdo'a dan meminta kepada Isa Al-Masih, malaikat dan hamba-hamba Allah yang shalih dan jenis makhluk jin.

Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam akan rela, jika dikatakan bahwa beliau kuasa menguraikan segala ikatan dan menghilangkan segala kesedihan. Padahal Al-Qur'an menyeru kepada beliau untuk memaklumkan,
"Katakanlah, 'Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raaf: 188)
"Seorang laki-laki datang kepada Rasululllah Shallallaahu 'alaihi wa Salam lalu ia berkata kepada beliau, 'Atas kehendak Allah dan kehendakmu." Maka Rasulullah bersabda, 'Apakah engkau menjadikan aku sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah? Katakanlah, "Hanya atas kehendak Allah semata." (HR. Nasaa'i, dengan sanad shahih)

Di samping itu, di akhir lafazh shalawat nariyah tersebut, terdapat pembatasan dalam masalah ilmu-ilmu Allah. Ini adalah suatu kesalahan besar.Seandainya kita membuang kata "Bihi" (dengan Muhammad), lalu kita ganti dengan kata "BiHaa" (dengan shalawat untuk Nabi), niscaya makna lafazh shalawat itu akan menjadi benar. Sehingga bacaannya akan menjadi seperti berikut ini:"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk Muhammad, yang dengan shalawat itu diuraikan segala ikatan ..."

Hal itu dibenarkan, karena shalawat untuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Salam adalah ibadah, sehingga kita boleh bertawassul dengannya, agar dihilangkan segala kesedihan dan kesusahan.Kenapa kita membaca shalawat-shalawat bid'ah yang merupakan perkataan manusia, kemudian kita meninggalkan shalawat lbrahimiyah yang merupakan ajaran AI-Ma'sum.

3. Shalawat dalam Kitab Ad'iyatush Shabaahi wal Masaa'i.

Dalam kitab Ad'iyatush Shabaahi wal Masaa'i, karya seorang syaikh besar dari Suriah Ia mengatakan, "Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, yang dari cahayanya Engkau ciptakan segala sesuatu."

"Segala sesuatu", berarti termasuk di dalamnya Adam, lblis, kera, babi, lalat, nyamuk dan sebagainya. Adakah seorang yang berakal akan mengatakan bahwa semua itu diciptakan dari cahaya Muhammad? Bahkan setan sendiri mengetahui dari apa ia diciptakan, juga mengetahui dari apa Adam diciptakan, sebagaimana dikisahkan dalam AI-Qur'an,

"Iblis berkata, 'Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah." (Shaad: 76)

Ayat di atas mendustakan dan membatalkan ucapan syaikh tersebut.

Termasuk lafazh shalawat bid'ah adalah ucapan mereka, "Semoga keberkahan dan keselamatan dilimpahkan untukmu wahai Rasulullah. Telah sempit tipu dayaku maka perkenankanlah (hajatku) wahai kekasih Allah."

Bagian pertama dari shalawat ini adalah benar, tetapi yang berbahaya dan merupakan syirik adalah pada bagian kedua. Yakni dari ucapannya:

Hal ini bertentangan dengan firman Allah;"Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepadaNya?" (An-Naml: 62)

Dan firman Allah "Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri." (Al-An'am: 17)

Sedangkan Rasulullah sendiri, manakala beliau ditimpa suatu kedukaan atau kesusahan, beliau berdo'a, "Wahai Dzat Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku Memohon pertolongan-Mu." (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)

Jika demikian halnya, bagaimana mungkin kita diperbolehkan mengatakan kepada beliau, "Perkenankanlah hajat kami, dan tolong-lah kami?"Lafazh ini bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam:
"Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)

4. Shalawat AI-Fatih

Lafazhnya:"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup"

Orang yang mengucapkan shalawat ini menyangka, bahwa barangsiapa membacanya maka baginya lebih utama daripada membaca khatam Al-Qur'an sebanyak enam ribu kali. Demikian, seperti dinukil oleh Syaikh Ahmad Tijani, pemimpin thariqah Tijaniyah.

Sungguh amat bodoh jika terdapat orang yang berakal mempercayai hal tersebut, apatah lagi jika ia seorang muslim. Sungguh amat tidak mungkin, bahwa membaca shalawat bid'ah tersebut lebih utama daripada membaca Al-Qur'an sekali, apatah lagi hingga enam ribu kali. Suatu ucapan yang tak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.

Adapun menyifati Rasulullah dengan "Sang Pembuka terhadap apa yang tertutup" secara mutlak, tanpa membatasinya dengan kehendak Allah, maka adalah suatu kesalahan. Karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam tidak membuka kota Makkah kecuali dengan kehendak Allah. Beliau juga tidak mampu membuka hati pamannya sehingga beriman kepada Allah, bahkan ia mati dalam keadaan menyekutukan Allah. Bahkan dengan tegas Al-Qur'an menyeru kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam,
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi,tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, ..." (Al-Qashash: 56)"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (AI-Fath: 1)

5. Shalawat dalam Kitab Dalaa 'ilul Khairaat

Pada bagian ke tujuh dari kitabnya mengatakan, "Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad selama burung-burung merpati berdengkur dan jimat-jimat (tamimah) bermanfaat."

Tamimah (suatu bentuk jimat) yaitu tulang, benang atau lainnya yang dikalungkan di leher anak-anak atau lainnya untuk menangkal atau menolak 'ain (pengaruh mata dengki).
Perbuatan tersebut tidak memberi manfaat kepada orang yang mengalungkannya, juga tidak terhadap orang yang dikalungi, bahkan ia adalah di antara perbuatan orang-orang musyrik.Rasulullah bersabda:"Barangsiapa mengalungkan jimat maka dia telah berbuat syirik". (HR. Ahmad, hadits shahih)

Lafazh bacaan shalawat di atas, dengan demikian, secara jelas bertentangan dengan kandungan hadits, karena lafazh tersebut menjadikan syirik dan tamimah sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Terdapat lagi lafazh bacaan shalawat dalam kitab Dalaa 'ilul Khairaat sebagai berikut: "Ya Allah limpahkanlah keberkahan atas Muhammad, sehingga tak tersisa lagi sedikit pun dari keberkahan, dan rahmatilah Muhammad, sehingga tak tersisa sedikit pun dari rahmat."

Lafazh bacaan shalawat di atas, menjadikan keberkahan dan rahmat, yang keduanya merupakan bagian dari sifat-sifat Allah, bisa habis dan binasa. Allah membantah ucapan mereka dengan firman-Nya,
"Katakanlah, 'Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (AI-Kahfi: 109)


Dari semua penjelasan diatas maka tinggalkanlah semua shalawat-shalawat bid’ah sebab dapat membuat kita syirik pada Allah.Sedangkan shalawat yang disyari’ahkan adalah yang telah dituntunkan Allah dan Rasulnya.Berikut ini penjelasan keutamaan membaca shalawat untuk Rasulullah yang disyari’ahkan:

Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56)

Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abu 'Aliyah berkata, "Shalawat Allah adalah berupa pujian-Nya untuk nabi di hadapan para malaikat. Adapun shalawat para malaikat adalah do'a (untuk beliau)." Ibnu Abbas berkata, "Bershalawat artinya mendo'akan supaya diberkati."

Maksud dari ayat di atas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yaitu, "Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala menggambarkan kepada segenap hamba-Nya tentang kedudukan seorang hamba-Nya, nabi dan kekasih-Nya di sisi-Nya di alam arwah, bahwa sesungguhnya Dia memujinya di hadapan para malaikat. Dan sesungguhnya para malaikat bershalawat untuknya. Kemudian Allah memerintahkan kepada penghuni alam dunia agar bershalawat untuknya, sehingga berkumpullah pujian baginya dari segenap penghuni alam semesta."

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar mendo'akan dan bershalawat untuk Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Bukan sebaliknya, memohon kepada beliau, sebagai sesembahan selain Allah, atau membacakan Al-Fatihah untuk beliau, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia.

Bacaan shalawat untuk Rasulullah yang paling utama adalah apa yang beliau ajarkan kepada para sahabat, ketika beliau bersabda, "Katakanlah, Ya Allah limpahkanlah rahmat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

5.31.2011



12.10.2009




Eko setyobudi



Sumardi


Amir Husni

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes